Road » Other Road
Short URL:
Bersepeda 1.393 km, Jakarta - Bali,
Cecep Gumilang Gowes 1.393 km Untuk Ungkapan Keprihatinan Atas BBM
Mon, 16 Apr 2012 | 11:46
Teks : Dhoni Bima
Dibaca : 20.608 kali

SPORTKU.COM - Ada banyak cara untuk mengungkapkan keprihatinan pada rencana kenaikan BBM yang dicanangkan pemerintah. Dan bagi, Cecep Gumilang sebagai wartawan (sobat dari Sportku.com). ia mencoba melakukan kontempelasi diri, mencoba menambah dan menemukan nilai-nilai kehidupan -katakanlah, sebagai bentuk aktualisasi diri, dengan bersepeda Jakarta - Bali, seorang diri.

Cecep Gumilang saat memasuki Situbondo - Gowes 1.393 km Untuk Ungkapan Keprihatinan Atas BBMcecep gumilang, sepeda, jakarta - bali, goweser, road bike, Gowes 1.393 km Untuk Ungkapan Keprihatinan Atas BBM

Beberapa nilai kehidupan yang tercapai yaitu: Kesabaran (karena tidak mungkin belagu di saat ban truk dan bus yang setinggi dada saat kita sedang gowes -hanya berjarak 1.5 meter saja), sikap tabah -karena mengeluh hanya akan membuat perjalanan tambah berat, fokus, waspada dalam perjalanan, kemampuan mengalahkan diri sendiri,  ketenangan karena banyak kejutan dalam perjalanan (seperti bertemu preman, kemalaman di jalan/kuburan), hingga ungkapan syukur pada Tuhan karena diberi kesempatan menyentuh langsung kehidupan masyarakat, melihat keindahan yang luar biasa, dan kebahagiaan sebagai manusia nan bebas.

Cecep Gumilang saat memasuki daerah Cirebon - Gowes 1.393 km Untuk Ungkapan Keprihatinan Atas BBMcecep gumilang, sepeda, jakarta - bali, goweser, road bike, Gowes 1.393 km Untuk Ungkapan Keprihatinan Atas BBM

Dan terbukti, kepekaan sebagai seorang wartawan terusik manakala tiba di area wisata Pasir Putih yang luar biasa indah (daerah Situbondo), tapi masyarakat pesisir di sana sangat miskin. Ada seorang bapak, yang belum tentu dalam satu hari memegang uang Rp 5000 rupiah. Padahal ia punya anak 5, di mana anak pertama kelainan mental, anak lelaki bungsunya busung lapar -dan tak pakai baju. Dua anak perempuannya, kemungkinan jika sudah besar masuk bisnis prostitusi di area tersebut. Karena, menurut hasil obrolan dengan sopir-sopir di Situbondo yang doyan 'jajan', pasokan wanita-wanita nakal memangdari keluarga-keluarga miskin di pesisir pantura. Hiks... (nangis deh gw di sini bro') . Bayangkan, di sisi lain pemerintah menaikkan BBM seentara si bapak dah jarang melaut (jadi buruh pula) karena harga solar mahal.
Indonesia indah, tapi Indonesia kurang urus. Contoh lain, Mojokerto punya situs-situs sejarah yang luarbiasa hebat (hasil kejayaan Majapahit), tapi jalan tak terurus -misalnya Mojokerto-Mojosari yang jalannya penuh tambalan tak beraturan, membuat tangan tremor, sempit, tapi dipakai dua arah dan dipenuhi truk. akibatnya, situs-situs sejarah itu sepi pengunjung...

Keindahan selat Bali - Gowes 1.393 km Untuk Ungkapan Keprihatinan Atas BBMcecep gumilang, sepeda, jakarta - bali, goweser, road bike, Gowes 1.393 km Untuk Ungkapan Keprihatinan Atas BBM

 

Agenda Perjalanan

H1 (24/3/12): Jakarta – Pamanukan (146 km). Tantangan di etape pertama ini adalah jalur Pantai Utara yang panas terik dan angin yang bertiup lumayan kencang. Sisi kanan-kiri didominasi oleh persawahan luas yang jarang sekali memiliki pohon pelindung. Jika pun ada pohon, jarak bahu jalan dengan pohon pelindung terlalu jauh. Tapi, semua itu tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan truk atau bus yang lewat di sisi Anda. Tinggi ban truk yang setara dengan dada –saat dalam posisi mengayuh sepeda, berjarak hanya 1.5 meter. Artinya, mereka akan terdengar bergemuruh dan jalanan sedikit bergoyang ketika mereka lewat. Yang bisa dilakukan hanyalah tetap tenang, fokus sehingga tidak kehilangan keseimbangan, dan bersiap mengalah jika mereka terlalu mepet ke sisi Anda. Sabar dan rendah hatilah, karena bersikap sombong membuat Anda akan tergilas –dalam arti yang sesungguhnya…


H2: Pamanukan, Jawa Barat – Ketanggungan, Jawa Tengah (179 km). Tantangan masih sama dengan hari pertama, namun jalur terasa semakin padat mendekati kota Cirebon. Truk dengan ban besar dan berjumlah 24 makin sering lewat. Untungnya, pemandangan pantai utara pulau Jawa mulai terlihat indah, dan banyak lokasi yang bisa diabadikan dengan kamera, khususnya di wilayah Kandanghaur. Setelah masuk Jawa Tengah, berbeloklah di Pejagan –di sini saya melakukan kesalahan, yaitu berbelok di Tanjung (satu kilometer sebelum Pejagan). Malam mulai turun, hujan lebat, yang saya lakukan adalah menggunakan jas hujan dan menutupi semua tas bawaan saya dengan matras antiair. Sayangnya, jarak pandang pendek, jalan rusak parah –berlubang seperti kubangan kerbau, licin, dan sepi. Meski tubuh masih sanggup menggowes, namun saya mengedepankan rasio: Bali masih jauh, saya membutuhkan tubuh dan sepeda yang fit untuk mengarungi ratusan kilometer di depan. Di penginapan terdekat, saya memilih beristirahat.


H3: Ketanggungan – Kebumen (180 km). Dalam perjalanan terdahulu, ketika saya bersepeda Jakarta – Yogyakarta bersama kawan-kawan, trek ini merupakan yang terberat karena Anda harus melewati jalur Ketanggungan – Prupuk yang rusak penuh lubang, kemudian mendaki bukit sepanjang 30 km menuju Bumiayu. Dulu, saya bisa ‘berbagi apa pun’ bersama para sahabat, tapi kini sendirian. Aroma bawang merah yang menyengat di beberapa lokasi, saya hirup sendiri. Keindahan alam di tanjakan Bumiayu, saya nikmati sendiri. Indah. Sesuatu yang tak mungkin saya dapatkan di Jakarta. Ternyata, melewati kota Bumiayu jalur masih menanjak –sekitar 18 kilometer–  hingga kota kecamatan Pangguyangan. Namun setelah itu, Anda akan mendapatkan bonus turunan melewati kota Ajibarang hingga Wangon. Perjuangan yang terbayar lunas! Sialnya, blackberry saya rusak setibanya di kota kecil Buntu. Terpaksa harus membeli ponsel murah, mengingat komunikasi menjadi hal krusial dalam perjalanan ini. Jika sebelumnya mengandalkan BBM yang gratisan, kini saya mengandalkan SMS yang berbayar. Tidak ada pilihan… Ternyata tantangan belum usai, karena hujan deras mendadak turun. Saya memaksakan diri bersepeda malam hari, di saat hujan –atas dasar memiliki lampu yang cukup baik, kondisi fisik yang masih oke, tubuh dan tas-tas yang tertutup material antiair, serta jalur yang cukup bersahabat. Sekitar 40 kilometer bersepeda dalam hujan, tibalah saya di Kebumen, tempat di mana saya menginap.


H4: Kebumen – Yogya – Solo  (191 km). Jalur antara Kebumen – Yogyakarta  lumayan bersahabat bagi para pesepeda sehingga saya bisa memacu si putih cepat-cepat. Jalan aspal didominasi oleh jalur rolling ringan –tanjakan kecil dan turunan pendek. Tak ada masalah. Namun, memasuki pinggiran kota Yogya, saya terpaksa memilih ring road ke arah Solo, atas saran orang-orang yang saya temui di jalan. Yup, saat itu pukul 15:00, saat semua orang pulang kantor. Yogya macet. Sialnya, jalur lambat ring road dipenuhi motor yang rentang toleransinya kepada pesepeda sangat kurang. Belum lagi, jalurnya ‘menanjak halus’ sejauh 32 kilometer! Keluar dari ring road, jalur masih menanjak halus hingga Klaten. Saya memacu si putih cepat-cepat, berkejaran waktu dengan malam dan mendung yang menggantung di langit. Namun, saya masih bisa mengabadikan keindahan candi Prambanan dari sisi jalan. Syukurlah, sekitar pukul 18:00, saya sudah tiba di Solo. Masuk penginapan pukul 21:00, untuk… istirahat panjang.


H5: Istirahat. Dalam panduan touring bersepeda, hari ke-5 biasanya diisi oleh istirahat total. Tujuannya, melakukan recovery tubuh, urusan cuci-mencuci, hingga perbaikan sepeda. Syukurlah, tak ada masalah dengan si putih. Tapi saya tetap mengirimnya ke bengkel untuk dicuci, dan dilumasi. Di Solo, sebagai pesepeda, saya merasa dimanusiakan. Ada jalur sepeda di dalam kota hingga luar kota, lengkap dengan traffic light-nya. Perilaku pengendara bermotor juga mendahulukan pejalan kaki dan pesepeda. Kota yang nyaman dan bersahabat!


H6: Solo, Jawa Tengah – Nganjuk, Jawa Timur (164 km). Ada dua kota yang ramah bagi pesepeda, Solo dan Ngawi. Jalur sepeda di dalam hingga keluar kota juga dimiliki kota Ngawi Jawa Timur.  Perjalanan Solo – Ngawi – Nganjuk dipenuhi oleh pemandangan indah di sisi kiri-kanan jalan. Jalur aspalnya juga sangat mulus dan menyenangkan. Tapi, ada musuh terberat yang saya alami sepanjang perjalanan: Angin! Selepas Ngawi, melewati Caruban, hingga Nganjuk, kecepatan sepeda tidak beranjak dari angka 24 km/jam, dan itu pun sudah dengan mengerahkan tenaga. Padahal, sebelumnya, kecepatan sepeda biasa berada di angka 27 km/jam hingga 35 km/jam. Ada apa?
Di sebuah pertigaan, saya menanyakan hal ini ke empat orang pria dewasa yang sedang duduk di warung. Jawabnya, ”Lho, jelas mas. Nganjuk itu ‘kota angin’. Untung mas sepeda-annya bulan ini. Kalau bulan Juli-Agustus, anginnya jauh lebih parah! Ndak maju-maju sampeyan”.  Saya hanya bisa nyengir, ternyata saya masih beruntung.


H7: Nganjuk – Grati (166 km). Sejatinya, jalur ini flat saja. Namun, jeleknya jalan aspal karena tambalan di sana-sini membuat tangan seperti tremor. Penderitaan dirasakan antara ruas Mojokerto - Mojosari, jalan begitu sempit sehingga roda-roda truk yang lewat sangat dekat dengan tubuh. Ada beberapa ruas jalan yang mirip jalur Pantura namun ditambah debu. Singkatnya, sepeda hanya bisa dipacu dalam kecepatan rendah. Untungnya, ada beberapa situs sejarah kerajaan Majapahit yang tidak terlalu jauh dari jalan utama. Saya sempat mengunjungi monumen ‘Buddha Tidur’. Besar, berwarna keemasan, dan indah. Sejenis hiburan yang menyenangkan hati, ketimbang harus terus-menerus menghadapi jalan rusak. Pukul 16:00, saya sudah memasuki Pasuruan. Dan 200 m melewati gerbang kota, cyclometer saya kembali ke angka 0, yang artinya 1000 km sudah dilewati dari garis start di Depok. Syukurlah…
Namun, kesalahan membaca peta yang dilakukan navigator dari Jakarta, Budi Dwi Sakti, membuat saya tidak bisa mencapai kota tujuan Probolinggo. Ternyata, Probolinggo masih jauh! Akibatnya, malam itu saya mesti menginap di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU), yang menyediakan saung-saung kecil, plus ditemani obrolan hangat sopir-sopir truk lintas propinsi. Asyik!


H8: Grati – Situbondo (127 km). Jari-jari ban belakang si putih patah. Hal yang wajar setelah melewati jalur Mojokerto – Mojosari yang beraspal tambalan. Saya terpaksa berhenti sebentar di kota kecil Nguling, masuk ke pedalaman untuk menemukan bengkel sepeda yang bisa memperbaiki jari-jari. No problem! Selanjutnya, apa yang saya dapatkan di perjalanan hanyalah keindahan semata. Indah, indah, dan indah. Selepas tanjakan ringan Paiton, sisi sebelah kiri jalan adalah laut tanpa pembatas. Baiklah, mungkin beberapa kali diselingi hutan bakau, tapi sisanya adalah laut biru nan cantik. Luar biasa. Saya pikir, ini adalah bonus terbaik yang saya dapatkan dari perjalanan ini. Jika sebelumnya saya berinteraksi dengan sopir truk, atau penduduk pedesaan dengan mata pencaharian bertani dan beternak, kini saya berinteraksi dengan penduduk pesisir. Dan ironisnya, di balik keindahan alam yang luar biasa, penduduk pesisir ternyata masyarakat yang sangat miskin.
Di Situbondo, polisi menyarankan saya untuk tidak melanjutkan perjalanan karena akan memasuki hutan Taman Nasional Baluran. “Berbahaya jika memasuki hutan tersebut di malam hari, sendirian pula. Bahkan, pengendara motor pun tidak berani karena banyak kasus tabrak lari. Tidak ada rumah di sana, dan hutannya sangat panjang,” kata seorang petugas polisi. Dengan terpaksa, saya menuruti saran tersebut. Dan untuk pertama kalinya, saya masuk penginapan pukul 15:30 sore.


H9: Situbondo, Jawa Timur – Negara, Bali (136 km). Perjalanan diawali dengan jalur beraspal yang penuh tambalan. Melewati kota kecil Asem Bagus, saya dan si putih mulai mendaki pebukitan sejauh 15 kilometer. Inilah pintu masuk Taman Nasional Baluran. Dan, mendadak saya bersyukur karena telah menuruti saran pak polisi. Yup, selain orang-orang yang berada dalam kabin truk, bus, mobil, saya hanya bertemu kurang dari 20 sepeda motor. Saya, sendirian, di hutan jati nan panjang. Terbayang, bagaimana sulitnya evakuasi di tempat seperti ini. Untungnya, setelah 28 kilometer berada dalam hutan, saya mulai menemui rumah-rumah penduduk dan… voila! Pelabuhan Ketapang. Dengan antusiasme tinggi, saya bawa si putih masuk ke geladak kapal, dan tiba sejam kemudian di pelabuhan Gilimanuk Bali, pukul 13:00. Waktu masih panjang, saya melanjutkan perjalanan bersepeda ke Negara, 37 kilometer dari Gilimanuk, melewati Taman Nasional Bali Barat yang dipenuhi monyet-monyet. Pukul 16:00, saya sudah masuk kamar penginapan untuk merayakan pencapaian bersepeda hingga Bali. Malam harinya, saya berkunjung ke Pasar Rakyat, berbaur dengan masyarakat Bali dan pedagang asal Jawa. Menyenangkan sekali….


H10: Negara – Denpasar (108 km). Harga senang-senang di hari sebelumnya ternyata harus dibayar mahal. Jalur Negara – Tabanan sejauh 84 kilometer diwarnai oleh tanjakan dan jalur rolling naik-turun yang membuat perut mual. Dahsyat! semua strategi digunakan untuk mengatasi jalur rolling yang sejatinya terus menanjak. Meski start jam 07:00 pagi, pada jam 12:00 tubuh sudah terasa capek. Itu karena dipaksa terus-menerus ‘berjuang’ mengejar momentum turunan yang pendek, agar bisa menaklukkan tanjakan yang lebih panjang dari turunannya. Untunglah, setelah Tabanan jalur relatif menurun hingga Denpasar. Pukul 14:00, saya sudah tiba di kediaman sobat saya sejak Sekolah Menengah Pertama, Agus Wahyudi Jaya.


H11 (1/4/2012): Denpasar – Jakarta (via udara). Menginap satu malam di kediaman Agus, itu sudah cukup. Dengan tiket pesawat yang membolehkan ‘si putih’ naik ke dalam bagasi, esoknya saya terbang kembali ke ibukota dan tiba di kantor tepat waktu, saat meeting redaksi Men’s Health Indonesia berlangsung. Dan saya disambut hangat oleh para sahabat.